
TERGELETAK, bagai sampah di pasar. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku kembali memungutnya. Padahal ini tak lebih dari sisa jeroan atau kepala ikan yang membusuk termakan belatung. "Ini bukan sekedar daging atau fisik yang mudah rusak." dengan kepala deras keringat dan berurat aku mencoba berpikir demikian. Aku mencoba mengulang kejadian masa lalu di otakku, mencari arti lebih dalam dari apa yang aku buang dan apa yang kini aku pungut kembali. "Cukup rusak jika kulihat dari luar, tapi entahlah.. mungkin bisa berguna nanti, atau mungkin akan ku pinjamkan gelas yang berpisau penggilas itu untuk kulebur layaknya bubur?" Aku bagai beradu dengan kepala sendiri, meragukan masa depan dengan cara mengingat masa lalu.
Sinar matahari pagi di kota itu berubah fungsi bagiku. Cahayanya tak lagi membangunkanku, panasnya tak lagi ku risaukan. Aku tak terlihat oleh-Nya,ataukah aku yang menyembunyikan mata dari terang mata-Nya? Ternyata aku tertidur lelap setelah terlarut begitu menyatu dengan kejadian waktu itu. Aku mulai membincangkan ucapanku sendiri, "di mana letak pertanyaan dari jawabannya kemarin malam?" Dan bukanlah sebuah kebingungan yang aku dapat, tapi keraguan. Ragu akan sesaknya hela nafas di setiap aku mengenangnya. Pikiranku liar, bisikan itu terdengar halus dan jelas bergema di tempurung kepalaku! Malam adalah waktu perenunganku, waktu penyesalanku, dan waktu air mataku. Lalu kucoba kuatkan otakku yang melemah bila kupikirkan dia, kucoba tegapkan badan yang selalu membungkuk setelah mendengar perintahnya. Untuk kesekian kali, aku hampir berhasil melupakannya, melupakan jawaban yang tak berdasar darinya. Aku hidup seperti sedia kala, aku belum mengenalnya, aku gembira, dan mungkin sakit jiwa(?).
TAPI, apalah makna dari kata "hampir" dalam kata "hampir berhasil melupakannya" Aku hampir lupa, hampir berhasil melupakannya berarti sama saja dengan belum sepenuhnya berhasil membuang sisa dari aroma nafasnya yang meresap di hidungku, atau berhasil melupakan apa yang kudengar di setiap hangat janjinya dan tarian lidahnya saat berucap manis, "gak ada yang bakal bisa pisahin kita."
Kini aku jauh, jauh darinya, dan tetap pikiranku padanya, pada janjinya. Rinduku tak tertuju, pelukku telah merenggang saat bayangnya berlalu. Aku pun terpuruk untuk kesekian kali, di malam di mana aku jatuh terlalu keras dari ketinggian rasa yang ku letakkan di atas ucapannya. Mungkin kakiku patah sehingga aku harus merangkak, tiarap lebih tepatnya, atau haruskah aku ngesot layaknya suster hantu di film-film yang katanya seram? Tapi itu tak seseram dengan apa yang ku alami! Lumpuh, yang mengakibatkan aku terpaksa berjalan menuju kehidupan normalku lagi dengan kedua tangan kosongku. "suasana baru yang masih mengharu biru." lirih dalam benakku.
Aku terbangun, dari mimpi tentang serangga kecil yang berekor nyala api. segera kurogoh kantong celanaku, aku mulai mengenggam ponsel baru dari hasil judi gaplek kemarin. "Kunang-kunang." setelah selesai kuketik kata tersebut, aku segera kirim sms itu ke nomer HP ibunya. Serangga yang membawa secercah sinar harapan, apa maksud dari semua ini?! Kemudian, "DERD..DERD..DERD," ponsel haramku bergetar menandakan ada pesan baru. "Sat,, dy sms aq td.. Dy ngetik kt 'kunang2'.. Aq g nyangka, kq kykny kntak btin qt msi ad coz aq bru aj mimpi liat kunang2 m dy.. Sumpah nie nyata x.. G buat2 aq, Klo mnrt ko pzt trkesan lebay,.." itu sebuah reply sms yang aku dapat dari teman dekatnya, yang selama ini menjadi penengah dan pendengar setia tentang hubunganku dengan kekasihku dulu. Sambil menelan ludah, aku tersadar bahwa aku dan dia sebenarnya masih satu rasa, dalam esensi satu sama lain yang melekat seperti lumut di dinding selokan depan rumahku. Teringat janjinya kembali, aku benar-benar yakin bahwa penyebab normal dan tidaknya hidupku telah terikat erat di genggamnya.
Kini aku jauh, jauh darinya, dan tetap pikiranku padanya, pada janjinya. Rinduku tak tertuju, pelukku telah merenggang saat bayangnya berlalu. Aku pun terpuruk untuk kesekian kali, di malam di mana aku jatuh terlalu keras dari ketinggian rasa yang ku letakkan di atas ucapannya. Mungkin kakiku patah sehingga aku harus merangkak, tiarap lebih tepatnya, atau haruskah aku ngesot layaknya suster hantu di film-film yang katanya seram? Tapi itu tak seseram dengan apa yang ku alami! Lumpuh, yang mengakibatkan aku terpaksa berjalan menuju kehidupan normalku lagi dengan kedua tangan kosongku. "suasana baru yang masih mengharu biru." lirih dalam benakku.
Aku terbangun, dari mimpi tentang serangga kecil yang berekor nyala api. segera kurogoh kantong celanaku, aku mulai mengenggam ponsel baru dari hasil judi gaplek kemarin. "Kunang-kunang." setelah selesai kuketik kata tersebut, aku segera kirim sms itu ke nomer HP ibunya. Serangga yang membawa secercah sinar harapan, apa maksud dari semua ini?! Kemudian, "DERD..DERD..DERD," ponsel haramku bergetar menandakan ada pesan baru. "Sat,, dy sms aq td.. Dy ngetik kt 'kunang2'.. Aq g nyangka, kq kykny kntak btin qt msi ad coz aq bru aj mimpi liat kunang2 m dy.. Sumpah nie nyata x.. G buat2 aq, Klo mnrt ko pzt trkesan lebay,.." itu sebuah reply sms yang aku dapat dari teman dekatnya, yang selama ini menjadi penengah dan pendengar setia tentang hubunganku dengan kekasihku dulu. Sambil menelan ludah, aku tersadar bahwa aku dan dia sebenarnya masih satu rasa, dalam esensi satu sama lain yang melekat seperti lumut di dinding selokan depan rumahku. Teringat janjinya kembali, aku benar-benar yakin bahwa penyebab normal dan tidaknya hidupku telah terikat erat di genggamnya.
Dalam lamunan kumenunggu.. Penuh harapan aku menanti janjinya, menanti hatinya kembali.
bersambung..(Pelangi Hitam)
