GURUH sahut menyahut di langit yang begitu gembiranya menumpahkan airnya ke bumi yang sudah terengah-engah karena hampir tenggelam. Sungai, selokan, jalan sudah penuh oleh air. Siang itu, mentari pun tertelan bersama gumpalan awan hitam yang menggulung. Bagai berteduh di bawah mendung, aku membasahi diri dengan deras air hujan. "Rintikmu terlalu tajam menghujam badan keringku. Aku tak lagi merasakan sejuk darimu!" ucapku mengeluh kepada hujan. Begitu kerasnya mereka menghantamkan diri di permukaan tanah, menciptakan percikan air yang kian terpecah, begitu pula mereka terhadap diriku. Aku menahan diri untuk tidak beranjak dari sambutannya. Berharap mereka sejukkan hatiku yang juga mendung, persis di siang itu, hujan dari mataku.
Entah dari mana datangnya hembusan angin tentangnya yang pergi dulu. Aku menunggu kabarnya, dari cerita lamunanku di masa lalu. Namun tak kunjung dia datang.. Aku mulai cemas akan janjinya, mulai risau akan kerlip kunang-kunang dalam mimpi yang perlahan meredup.
Gemuruh kembali menggelegar seolah mengabarkan bahwa dia tak mungkin datang lagi..
Air cucuran hujan terasa mengalir melalui sela-sela langkahku menuju pulang. Menghanyutkan kenanganku bersama sampah-sampah jalanan di gang kecil yang mulai tergenang. Sekarang terungkap sudah gundahku, akan rinduku tentang terik mentari yang biasa menyengat, tentang debu yang tertiup angin.
Air cucuran hujan terasa mengalir melalui sela-sela langkahku menuju pulang. Menghanyutkan kenanganku bersama sampah-sampah jalanan di gang kecil yang mulai tergenang. Sekarang terungkap sudah gundahku, akan rinduku tentang terik mentari yang biasa menyengat, tentang debu yang tertiup angin.
bersambung>>
